Rabu, 19 Mei 2010

“Sang Adipati Kuningan” adalah “Putra” Luragung

Menelusuri jejak sejarah Kabupaten Kuningan, terutama membedah tokoh “Sang Adipati Kuningan” yang pernah menjadi pemimpin pemerintahan di Kuningan pada masa penyebaran Islam di Cirebon (Jawa Barat) dan sekitarnya akhirnya dapatlah diungkapkan bahwa nama Sang Adipati Kuningan yang sebenarnya adalah SURANGGAJAYA. Ia adalah putra Ki Gedeng Luragung (seorang kepala daerah di Luragung) bernama JAYARAKSA. Jayaraksa juga punya saudara laki-laki yang memimpin daerah Winduherang bernama BRATAWIYANA atau BRATAWIJAYA (?) yang dijuluki juga Ki Gedeng Kamuning atau Arya Kamuning.

Ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam, di antaranya sampai pula ke Luragung, beliau disusul kedatangannya ke Luragung oleh istrinya bernama putri Ong Tien (asal Campa) yang juga bernama Nyai Rara Sumanding. Ketika itu sang istri sedang mengandung tua, dan di Luragung pulalah akhirnya Nyai Rara Sumanding melahirkan anak. Namun sayang putra yang baru dilahirkannya itu meninggal dunia. Untuk mengobati hati beliau yang sedang berduka itu, kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk memungut putranya yang kebetulan masih bayi untuk diangkat anak oleh Sunan Gunung Jati. Anak tersebut namanya Suranggajaya.

Dalam cerita rakyat Kuningan versi lainnya yang berbau mitos menyebutkan bahwa yang dilahirkan oleh Nyai Rara Sumanding bukanlah anak, tetapi sebuah bokor yang terbuat dari logam Kuningan. Bokor Kuningan inilah yang nantinya menjadi logo maskot Kota Kuningan, selain Kuda Kuningan. Juga ada yang menyebutkan bokor kuningan itu sebagai barang “panukeur” atawa “tutukeuranna” antara bayi dari Ki Gedeng Luragung yang ditukar dengan bokor kuningan dari Nyai Rara Sumanding. Cerita-cerita mitos ini memang banyak mewarnai dalam penelusuran sejarah Kuningan.

Setelah ke Luragung perjalanan Sunan Gunung Jati diteruskan ke Winduherang (yang dulu diduga sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kuningan/Kajene) untuk menemui saudaranya Jayaraksa yaitu Bratawiyana yang rupanya telah lebih dulu masuk Islam. Sementara itu pemegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Kuningan saat itu sedang diperintah oleh Nyai Ratu Selawati (keturunan Prabu Langlangbuana). Ratu Selawati yang tadinya penganut Hindu menjadi penganut Islam setelah menikah dengan Syekh Maulana Arifin (putra dari Syekh Maulana Akbar). Syekh Maulana Akbar sendiri adalah seorang ulama yang diduga asal Persia yang berhasil sampai ke Kuningan dan menyebarkan Islam di sana. Kedatangannya ke Kuningan waktu itu kiranya terlebih dahulu atas seijin Sunan Gunung Jati penguasa Kerajaan Islam Cirebon yang mulai tumbuh dan giat menyebarkan Islam. Kedatangannya Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam ke Kuningan berarti lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam ke Kuningan, sementara Sunan Gunung Jati lebih menyempurnakan lagi. Kurun waktu kedatangan Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam di Kuningan diperkirakan mulai terjadi tahun 1450.

Ketika Sunan Gunung Jati sampai di Winduherang, beliau menitipkan putra angkatnya tersebut (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Arya Kamuning). Selain itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa anak tersebut setelah dewasa kelak akan diangkat menjadi penguasa daerah Kuningan. Dalam masa pengasuhan Arya Kamuning ini bahkan anak yang dititipkan itu diberi nama panggilan Raden Kamuning, kiranya untuk lebih mendekatkan hubungan psikologis (batin) antara ayah (asuh) dengan putra (asuh)nya.

Dalam sumber berita Cirebon (CPCN/Carita Purwaka Caruban Nagari) dan buku karya P.S Sulendraningrat bahkan disebutkan lagi bahwa bersamaan dengan mengasuh putra angkat Sunan Gunung Jati, sebenarnya Bratawiyana (Arya Kamuning) juga punya anak yang sedang sama-sama dibesarkan (seusia dengan Suranggajaya) yaitu Ewangga. Tetapi di sumber lain menyebutkan bahwa tokoh Dipati Ewangga adalah seorang bangsawan yang asalnya dari Parahyangan (Cianjur) yang pada awalnya ingin berguru/belajar agama Islam kepada Sunan Gunung Jati, lalu oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk pergi ke Kuningan saja membantu putra angkatnya (yaitu Suranggajaya) dalam mengelola pemerintahan di Kuningan. Mana yang benar, yang jelas keberadaan tokoh Dipati Ewangga kiprahnya banyak diceriterakan sebagai tokoh “panglima” tentara Kuningan yang pernah ikut membantu Cirebon dan Mataram ketika menyerang Belanda di Batavia (sehingga ada nama perkampungan Kuningan di Jakarta).

Setelah dewasa, menginjak usia 17 tahun, akhirnya janji Sunan Gunung Jati mengangkat putranya menjadi penguasa di Kuningan pun dilakukan. Suranggajaya kemudian dilantik menjadi pemimpin Kuningan dengan julukan populernya Sang Adipati Kuningan. Titimangsanya konon bertepatan dengan tanggal 1 September 1478, yang diperingati sebagai hari lahirnya kota Kuningan.

Namun bila dilihat secara politis, sebenarnya sejak saat itu sebenarnya “Kerajaan” Kuningan telah jatuh. Tidak lagi sebagai kerajaan yang berdaulat penuh atau merdeka, tetapi terikat menjadi daerah bawahan Kerajaan Cirebon. Berarti kalau kita lihat eksistensi perjalanan Kerajaan Kuningan sejak zaman Hindu dari awal kelahirannya, bernama Kerajaan Kuningan (raja: Sang Pandawa) – Kerajaan Saunggalah (raja: Demunawan/Rahangtang Kuku/Seuweukarma) merupakan kerajaan berdaulat penuh. Kemudian dibawahkan oleh Kerajaan Galuh (raja: Rhy Banga), lalu muncul lagi dijadikan pusat pemerintahan oleh putra Rakeyan Darmasiksa, yaitu Prabu Ragasuci/Sang Lumahing Taman. Selanjutnya di bawah penguasaan Sunda Padjajaran oleh Prabu Siliwangi. Lalu muncul Kerajaan Kuningan dengan sebutan Kajene zaman Prabu Langlangbuana/Langlangbumi dan diturunkan kepada Ratu Selawati (kerajaan kecil di bawah pengaruh Kerajaan Sunda Pajajaran), dan akhirnya ketika diperintah Sang Adipati Kuningan, pemerintahan kerajaan jatuh di bawah pengaruh Kerajaan Cirebon.

Minggu, 16 Mei 2010

Pasuketan


Dari arah Kasepuhan ke Pasuketan kami tempuh dengan berjalan kaki (akhirnya hujan reda juga) selama kurang lebih 15 menit. Pasuketan konon berasal dari banyaknya kuda dan tumpukan rumput (suket) di daerah situ, sehingga namanya adalah pasuketan. Bener enggaknya kami pun tak tahu. Pasuketan ini merupakan sentra perdagangan, dulu (sekarang juga kayaknya), di simpangnya (perempatannya) kami melihat gedung tua yang kami cari, gedung BAT (British American Tobacco), di sisi yang lain juga ada gedung apa dulunya kami kurang tahu, tapi sekarang menjadi Bank Mandiri, disampingnya ada Wihara Dewi Welas Asih kemudian di sampingnya lagi ada Pelabuhan Cirebon. (ga sangka kami sudah berada hampir di ujung utara pulau Jawa neh, karena pasti Pelabuhan Cirebon adalah sarana ngetemnya kapal dari Laut Jawa sana). Seperti halnya karakter kota pelabuhan pada umumnya, seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya. Pembangunan dan sentra perdagangan pada umumnya pernah tumbuh pesat dan berkembang di area ini. Kota tua di Jakarta dan Kota Lama di Semarang juga termasuk kawaan yang dekat pelabuhan. Wisata Kota Lama yang sedang di rekonstruksi di Surabaya juga berada di sekitar pelabuhan, jadi tepatlah kiranya, kalau kami hendak berburu sisa sejarah di sini.

Kami sampai di simpang Pasuketan ini kurang lebih pukul 14.45 dan langsung jeprat-jepret. Kami kurang tahu sejarah gedung BAT ini, jadi maap-maap tidak ada laporan yang berarti dari kami tentang gedung BAT. Yang kami tahu, bahwa gedung ini adalah pabrik rokok putih yang terkemuka di dunia. Gedung BAT ini didirikan tahun 1924 dengan diarsiteki Biro Arsitek Hulswit Fermond Ed Cuypers dengan gaya art deco (apaan si art deco ini). Gedung sekaligus parbrik rokok ini mulai beroperasi tahun 1924.

Ada kesan kagum melihat gedung BAT ini. Jauh dari bayangan kami akan gedung tua yang kotor, rapuh dan tak terawat. Gedung ini justru sebaliknya. Gedung yang didominasi warna putih dan sedikit warna krem pada bagian bawahnya ini sangat rapi. Jika alasannya adalah karena gedung ini masih digunakan, akan sangat banyak sekali contoh gedung tua yang walaupun masih digunakan tapi tidak sebersih dan serapi BAT ini. Lihat saja bangunan gedung pabrik gula-pabrik gula yang masih beroprasi sampai saat ini. Kebanyakan dari mereka adalah gedung tua, dan masih digunakan, tapi tetap saja, jorok. Salut banget deh buat pengelola gedungnya. Misalnya semua gedung tua bisa sebersih itu, makin cantiklah wisata kota tua/ atau kota lama itu.

di posting dari http://anyerpanarukan.blogsport.com

Bank Indonesia Cirebon

Berputar-putar di simpang Pasuketan ini, ke Pelabuhan, wihara Dewi Welas Asih, Bank Mandiri hanya untuk mencari tulisan jalan bernama Yos Sudarso. Fiuh, ga ada tuh, kami tidak tahan untuk tidak bertanya. Dan orang yang kami pilih adalah bapak berseragam dari Satuan Polisi Pamong Praja yang kantornya tidak jauh dari Simpang Pasuketan ini. Apakah yang kami tanya? Langsung pada sasasaran, Gedung Bank Indonesia. Gedung Bank Indonesia ini merupakan salah satu icon wajib dalam perjalanan ala MPK. Gedung ini pada umumnya memiliki arsitek yang keren dan tentu sangat terawat (sejauh yang kami tahu kecuali Surabaya). Setelah bertanya, kamipun diberikan arahan yang sangat gamblang. (bapak ini adalah orang ramah ketiga yang kami jumpai, setelah akang di Kanoman, bapak di Kasepuhan dan sekarang bapak di Satpol PP). Rutenya, dari depan BAT, seberang Bank Mandiri lurus aja sampai ada pertigaan pertama belok kiri, kemudian lurus lagi ada pertigaan belok kiri lagi. Tepat di sebrangnya adalah Bank Indonesia. Terima kasih pak.

Gedung Bank Indonesia ini memiliki perbedaan dengan gedung Bank Indonesia lainnya. Gedung ini dari awal dibangunnya memang merupakan sebuah bank, dulu adalah kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon yang dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 63 tanggal 31 Juli 1866. Kantor ini merupakan kantor cabang kelima setelah Semarang, Surabaya, Padang dan Makassar. Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen. Arsitek bangunan ini sama dengan arsitek gedung BAT yang dibangun tahun 1924. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah, gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga kesannya lebih ramping. Di Yogya ada 2 kubah memanjang (kami juga mengambil gambarnya pada uploadan yang lalu).

Selesai dengan gedung BI, kami sempat berdiskusi dan membuka kembali rute perjalanan kami. Terus terang kami blank sampai di sini. Kemana dulu yang lebih dekat. Sambil berjalan kami bertanya kembali ke bapak berseragam, kali ini korban kami adalah petugas keamanan dari sebuah kantor apa yang kami lupa lagi untuk kali kesekian (amnesia bukan? Dikit-dikit lupa…^^). Apakah kami menjadi orang beruntung yang mendapatkan keramahan Cirebon? Yak ternyata kami termasuk orang yang beruntung itu. Kami memberikan alternatif, apakah ke kantor Balai Kota ataukah Masjid Panjunan yang lebih dekat? Kemudian bapaknya memberikan gambaran plus rute angkotnya. Angkot? Terima kasih, kami memilih jalan kaki saja. Saran dari bapak itu adalah Panjunan terlebih dahulu, dan dari Panjunan lebih dekat ke Balai Kota di Siliwangi. Rutenya, kembali ke Pasuketan, nglewati BAT lagi trus kalau ketemu Hero kita lewat belakangnya. Kemudian luruuuuus melewati tukang parfum-parfum (kampung Arab), ada gang ke kanan belok kanan, dari jalan besar kelihatan kok masjidnya. Terima kasih pak kami ikuti saran bapak.

di posting dari http://anyerpanarukan.blogsport.com

Alun - alun Kejaksan

Kalo dari Panjunan ke Alun-alun Kejaksan atau Balai Kota, rutenya seperti ini, dari arah tempat kita datang tadi kan ada perempatan (lokasi masjid Panjunan tepat berada di ujung perempatan), dari perempatan itu belok kiri, trus luruuus aja sampai nemu jalan besar trus belok kanan. Dari situ luruuuus aja sampai nemu perempatan jalan RA. Kartini, di kiri jalan itulah Alun-alun Kejaksan. Jaraknya kurang lebih 1 km an. Kami mendapatkan rute ini setelah bertanya bapak-bapak keturunan Arab yang sedang menikmati udara sore. Diakhir pembicaraan, bapak tersebut mengucapkan sesuatu yang membuat kami terharu, “ga mampir dulu de”, dan kami menjawab, “terima kasih pak, kami sedang berburu dengan waktu” dan bapak itupun tersenyum dengan sangat manis…^^

Apa yang kawan-kawan ketahui tentang Alun-alun Kejaksan, tempat bermain base ball sekelompok pelajar? Tempat latihan paskibra? Atau apa? Jujur kami tidak tau apa sebenarnya tentang Alun-alun ini sampai kami membaca sebuah tulisan di Pikiran Rakyat, bahwa Proklamasi Kemerdekaan Republik ini sebenarnya untuk kali pertama tidak di Jakarta, tapi di Cirebon. Bagaimana kisahnya berikut ringkasannya (kami kutip dari Pikiran Rakyat, pikiran-rakyat.com).

Tangal 14 Agustus 1945 pagi, di ruang bawah tanah, Sutan Syahrir dan sejumlah kawan mendengar siaran radio British Broadcasting (BBC) yang inti beritanya, Jepang berencana menyerah tanpa syarat kepada sekutu akibat pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Penyerahan akan dilakukan 15 Agustus 1945. Mendengar rencana tersebut, Sutan Syahrir bersama pemuda revolusioner lainnya seperti Sukarni, Chaerul Saleh dan Adam Malik langsung menggelar rapat tertutup. Hasil rapat dikirimkan melalui radiogram kepada rekan-rekan seperjuangan terutama para pimpinan PARAS (Partai Rakyat Sosialis) dan PNI (Partai Nasionalis Indonesia) atau PNI Pendidikan di Cirebon. Radiogram tersebut berisi agar para aktivis partai berhaluan sosial-demokrat tersebut diminta untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, tepat ketika Kaisar Hirohito menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945, beberapa jam kemudian, di Alun-alun Kejaksan ini, sedikitnya 150 pemuda membacakan teks proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. (loh bukannya teks proklamasi menurut sejarah yang kita pegang selama ini menyatakan bahwa teks proklamasi masih diperdebatkan di Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945 malam? Mana yang bener neh?, sabar, ikuti terus jalan ceritanya…^^)

Proklamasi di Cirebon dibacakan oleh dr. Soedarsono, Kepala Rumah Sakit Kesambi, sekarang menjadi Rumah Sakit Gunung Jati (ayah Prof. Dr. Juwono Soedarsono, menteri Pertahanan sekarang). Soedarsono adalah kader PNI binaan Syahrir yang menerima perintah langsung dari Jakarta. Naskah tersebut berbeda dengan yang dibacakan tanggal 17 Agustus 1945, naskah ini cukup panjang, mencapai tiga ratus kata (bandingkan dengan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 yang tidak lebih dari 25 kata). Ada dua versi mengenai naskah proklamasi yang dibacakan Soedarsono, versi pertama, naskah tersebut disusun oleh Syahrir dan kawan-kawan seperjuangan di Jakarta lalu dikirimkan melalui telegram kepada Soedarsono. Versi kedua, teks tersebut disusun sendiri oleh Soedarsono disesuaikan dengan arahan Syahrir dari Jakarta. Soedarsono berani memprokamirkan kemerdekaan Indonesia karena mengira Syahrir dan kawan-kawan berhasil meyakinkan Soekarno-Hatta atas kemerdekaan Indonesia (pada waktu itu Syahrir skeptis terhadap sikap Soekarno-Hatta setelah Jepang menyerah, ada kecenderungan Soekarno menunggu keputusan Jepang atas nasib Indonesia).

Proklamasi di Cirebon ini kurang mendapat apresiasi masyarakat secara luas, bahkan di Cirebon sendiri. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan adanya friksi ideologis di kalangan pemuda dan pejuang kemerdekaan sendiri. Soedarsono merupakan aktivis dalam Koperasi Rakyat Indonesia (KRI) yang berafiliasi dengan PNI Pendidikan pimpinan Hatta-Syahrir, di sisi lain, di Cirebon juga terdapat kelompok besar yang berafiliasi dengan PNI Partindo pimpinan Soekarno-Sartono. Terdapat juga kelompok besar bernama Barisan Pelopor yang dipimpin Sastrosuwirjo, barisan ini merupakan organ sayap Jawa Hokokai pimpinan Soekarno yang setelah kemerdekaan lebih dikenal dengan nama “Barisan Benteng”.

Nah, demikianlah kawan sedikit cerita tentang Alun-alun Kejaksan ini. Di seberang alun-alun ini terdapat masjid Jami’ Cirebon. Seperti halnya karakter alun-alun pada umumnya, alun-alun Kejaksan juga dilengkapi dengan masjid serta pemerintahan. Di Jl. Kartini terdapat bangunan yang klo tidak salah adalah kediaman Walikota atau apa ya itu, tidak ada papan penunjuknya si…yang jelas, dari keberadaan pasukan Pamong Prajanya , jelas bangunan tersebut bukan bangunan sembarangan. Paling tidak itu adalah gedung penting bagi Cirebon, awalnya kami mengira itu adalah Kantor Walikota (Balai Kota) tapi melihat bentuknya, kayaknya bukan karena tidak sesuai dengan bentuk Balai Kota yang kami ketahui.

Kami nyampe di Alun-alun ini sekitar pukul 16.00, kami nampaknya sudah tidak memungkinkan untuk ke Gua Sunyaragi karena pukul 17.00 paling lambat, kami sudah harus dalam bus yang mengangkut kami ke Bandung. Kami memperkirakan akan terjadi kemacetan di jalur Sumedang karena besok adalah hari libur, sehingga perjalanan yang sebetulnya 4 jam (seperti pada saat berangkat) bisa jadi lebih panjang. Oleh karena itu kalau kita ambil pukul 17.00 setidaknya pukul 22.00 kami sudah tiba di Bandung lagi. Baiklah, kita selesaikan dua bangunan di Jl. Siliwangi ini, Balai Kota dan Stasiun Kejaksan.

di posting dari http://anyerpanarukan.blogsport.com

Masjid Merah Panjunan


Kamipun berjalan sampai di ujuang BAT, untuk memastikan dan mengetes keramahan Cirebon kami cari korban kelima, dan hasilnya…. membuat kami tersenyum, “Panjunan ke arah mana ya pak?”, dan begini jawabnya. “gini, adek tau Hero? Lurus aja lewat belakangnya, trus luruuus aja, ada tulisannya PANJUNAN kok. Jika ade nyium bau wangi, berati ade berada di jalan yang benar”. Ternyata Cirebon tidak seperti yang dibayangkan, mungkin hanya angkutan dan tukang becaknya saja yang agresif terhadap penumpang, sisanya enggak kok, sangat ramah. Lima dari lima orang yang kami tanya semuanya ramah.

Hero, ini masih menjadi tanda tanya bagi kami, yang mana si Hero, yang kami tahu adalah Ramayana. Atau jangan-jangan Hero itu bagian dari Ramayana, tapi kami cari tulisan Hero masih belum ketemu, akhirnya kami ambil kesimpulan, dulu Ramayana itu adalah Hero. Selesai sudah (kalau salah, kawan-kawan bisa kasi komen yak), yang jelas kami sudah berada di jalan yang benar karena tercium bau parfum yang wangiiiii sekali, sangat kontras dengan bau badan kami…hihi…^^. Di tengah jalan ada pesan singkat dari Kang Agung (sang penunjuk jalan kami) menanyakan tentang kondisi kami, kalau kami jawab lapar dibawain makanan gak ya kira-kira…? Hehe peace kang Agung, thanks atas keramahan kotanya. Berjalan kurang lebih 500m lebih dikit, kami tengok ke kanan dan melihat sesosok pagar bata berwarna merah seperti bangunan candi. Inilah dia si cantik Masjid Merah Panjunan.

Nama Panjunan terletak di kampung Panjunan, kampung pembuat Jun atau keramik porselen. Kampung ini didirikan oleh Pangeran Panjunan (salah satu murid Sunan Gunung Jati). Nama asli dari Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman, pemimpin kelompok pendatang Arab dari Baghdad. Sang Pangeran dan keluarga mencari nafkah dari membuat keramik porselen. Begitu juga anak keturunan mereka sampai sekarang tetap membuat keramik porselen, sehingga tempat itu kemudian diberi nama Panjunan, pembuat Jun.

Masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, didirikan oleh Pangeran Panjunan tahun 1453, lebih tua dari Masjid Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530) dan Masjid Sang Cipta Rasa (1489). Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok dan tak lazim sebagai bangunan masjid, batu bata sangat lumrah dipakai untuk membuat candi. Awalnya masjid ini bernama Al-Athyang yang artinya dikasihi, namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan, Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan Tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Selain faktor agama tersebut, arsitektur masjid ini dipengaruhi oleh gaya Jawa dan Cina.

Saat kami tiba di masjid ini bertepatan dengan waktu Sholat Ashar, sehingga akan sangat tampak aneh kalo tukang jepret kami jungkir balik nyari posisi foto yang pas, jadinya hasil jepretannya segitu-gitu aja (alasan, amatir bilang aja amatir, pake alasan segala…^^). Kami tidak jadi masuk ke dalam masjid mengingat ibadah sedang berlangsung, takut dikira maling sandal nanti kalau masuk sebentar trus keluar lagi…^^ akhirnya, kami Cuma mendapatkan bagian luarnya saja. Pengen nungguin sepi, tempat lain sudah menunggu kami. Akhirnya untuk sementara kami sudahilah perjalanan ini.

di posting dari http://anyerpanarukan.blogsport.com

kesultanan Cirebon

KESULTANAN Cirebon merupakan kesultanan di pantai utara Jawa Barat dan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon pada saat sekarang merupakan nama satu wilayah administrasi, ibu kota, dan kota. Nama Cirebon juga melekat pada nama bekas sebuah keresidenan yang meliputi kabupaten-kabupaten Indramayu, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.

Sumber-sumber naskah tentang Cirebon yang disusun oleh para keturunan kesultanan dan para pujangga kraton umumnya berasal dari akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18. Dari sumber naskah setempat, yang dianggap tertua adalah naskah yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta. Selain sumber setempat, terdapat pula sumber-sumber asing. Yang dianggap tertua berasal dari catatan Tome Pires -mengunjungi Cirebon pada tahun 1513-yang berjudul Suma Oriental.

Mengenai nama Cirebon terdapat dua pendapat. Babad setempat, seperti Nagarakertabumi (ditulis oleh Pangeran Wangsakerta), Purwaka Caruban Nagari (ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720), dan Babad Cirebon (ditulis oleh Ki Martasiah pada akhir abad ke-18) menyebutkan bahwa kota Cirebon berasal dari kata ci dan rebon (udang kecil). Nama tersebut berkaitan dengan kegiatan para nelayan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan, yaitu membuat terasi dari udang kecil (rebon). Adapun versi lain yang diambil dari Nagarakertabhumi menyatakan bahwa kata cirebon adalah perkembangan kata caruban yang berasal dari istilah sarumban yang berarti pusat percampuran penduduk.

Di Pasambangan terdapat sebuah pesantren yang bernama Gunung Jati yang dipimpin oleh Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati). Di pesantren inilah Pangeran Walangsungsang (putra raja Pajajaran, Prabu Siliwangi) dan adiknya, Nyai Rara Santang, pertama kali mendapat pendidikan agama Islam.

Pada awal abad ke-16, Cirebon masih di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang ditempatkan oleh raja Pajajaran sebagai juru labuhan di Cirebon. Ia bergelar Cakrabumi. Setelah cukup kuat, Walangsungsang memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dan bergelar Cakrabuana. Ketika pemerintahannya telah kuat, Walangsungsang dan Nyai Rara Santang melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah ia memindahkan pusat kerajaannya ke Lemahwungkuk. Di sanalah kemudian didirikan keraton baru yang dinamakannya Pakungwati.

Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram , Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa.

Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Pnembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga).

Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon berada di bawah pengawasan langsung VOC.

Walaupun demikian kemunduran politik itu ternyata sama sekali tidak mengurangi wibawa Cirebon sebagai pusat keagamaan di Jawa Barat. Peranan historis keagamaan yang dijalankan Sunan Gunung Jati tak pernah hilang dalam kenangan masyarakat. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang. Pada abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal ini antara lain terbukti dari kegiatan karang-mengarang suluk, nyanyian keagamaan Islam yang bercorak mistik. Di samping itu, pesantren-pesantren yang pada masa awal Islam berkembang di daerah pesisir pulau Jawa hanya bertahan di Cirebon; selebihnya mengalami kemunduran atau pindah ke pedalaman.

Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melaksanakan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.*** (Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jilid I, Cet-11, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2003. hal. 272-274.)

Cirebon Merdeka Lebih Dulu

Begitu Jepang kalah perang, Sjahrir ingin kemerdekaan Indonesia dikumandangkan secepatnya. Proklamasi Cirebon dibacakan lebih cepat.

TUGU berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil itu berdiri tegak di tengah jalan di dekat alun-alun Kejaksan, Cirebon. Tugu yang sama, dengan tinggi sekitar tiga meter, menancap di halaman Kepolisian Sektor Waled di kota yang sama.

Tak banyak warga Cirebon tahu dua tugu tersebut merupakan saksi sejarah. Di tugu itu, pada 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi. ”Hanya para sesepuh yang mengingat itu sebagai tugu peringatan proklamasi 15 Agustus,” tutur Mondy Sukerman, salah satu warga Cirebon yang aktif dalam Badan Pekerja Pengaktifan Kembali Partai Sosialis Indonesia. Kakek Mondy, Sukanda, aktivis Partai Sosialis Indonesia, hadir saat proklamasi ini dibacakan di kota udang itu.

Saat Soedarsono membacakan teks proklamasi, sekitar 150 orang memenuhi alun-alun Kejaksan. Sebagian besar anggota Partai Nasional Indonesia Pendidikan. Cirebon memang merupakan salah satu basis PNI Pendidikan.

Soedarsono sendiri adalah tokoh gerakan bawah tanah pimpinan Sjahrir di Cirebon. Setelah siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945 mewartakan kekalahan Jepang oleh Sekutu, Sjahrir berambisi menyiarkan kemerdekaan Tanah Air secepatnya. Sjahrir menunggu Bung Karno dan Bung Hatta untuk menandatangani teks proklamasi sebelum 15 Agustus 1945. Sjahrir khawatir proklamasi yang muncul selewat tanggal itu dianggap bagian dari diskusi pertemuan antara Soekarno, Hatta, dan Marsekal Terauchi di Saigon. Ternyata harapannya tidak tercapai.

Ada dua versi asal-usul penyusunan teks proklamasi versi Cirebon. Menurut Maroeto Nitimihardjo, lewat kesaksian anaknya, Hadidjojo Nitimihardjo, Soedarsono tak pernah menerima teks proklamasi yang disusun Sjahrir. Maroeto adalah salah satu pendiri PNI Pendidikan.

Informasi diperoleh Maroeto ketika bertemu dengan Soedarsono di Desa Parapatan, sebelah barat Palimanan, saat mengungsikan keluarganya selang satu hari sebelum teks dibacakan di Cirebon. Soedarsono mengira Maroeto membawakan teks proklamasi dari Sjahrir.

”Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon,” ungkap Hadidjojo dalam buku Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan, yang pekan-pekan ini akan diterbitkan. Sayang, jejak teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono tak berbekas. Tak ada yang memiliki dokumennya.

Kisah berseberangan diungkap Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurut Des, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya.

Penyusunan teks proklamasi ini, antara lain, melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.”

Dalam buku Rudolf Mrazek berjudul Sjahrir, Sjahrir mengatakan teks proklamasinya diketik sepanjang 300 kata. Teks itu bukan berarti anti-Jepang atau anti-Belanda. ”Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain,” kata Sjahrir seperti ditulis dalam buku Mrazek. Sjahrir pun mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Selain mempersiapkan proklamasi, Sjahrir dengan semangat tinggi mengerahkan massa menyebarkan ”virus” proklamasi. Stasiun Gambir dijadikan arena untuk berdemonstrasi. Stasiun radio dan kantor polisi militer pun sempat akan diduduki. Kala itu, Des dan sekelompok mahasiswa bergerak hendak membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir agar teks proklamasi tersebar. Usaha tersebut gagal karena Kenpeitai menjaga rapat stasiun radio tersebut.

Tapi simpul-simpul gerakan bawah tanah terus bergerak cepat, menderu-deru dari satu kota ke kota lain, menyampaikan pesan Sjahrir. Dan keinginan Sjahrir agar proklamasi Indonesia segera didengungkan itu pun sampai di Cirebon.