Minggu, 16 Mei 2010

Masjid Merah Panjunan


Kamipun berjalan sampai di ujuang BAT, untuk memastikan dan mengetes keramahan Cirebon kami cari korban kelima, dan hasilnya…. membuat kami tersenyum, “Panjunan ke arah mana ya pak?”, dan begini jawabnya. “gini, adek tau Hero? Lurus aja lewat belakangnya, trus luruuus aja, ada tulisannya PANJUNAN kok. Jika ade nyium bau wangi, berati ade berada di jalan yang benar”. Ternyata Cirebon tidak seperti yang dibayangkan, mungkin hanya angkutan dan tukang becaknya saja yang agresif terhadap penumpang, sisanya enggak kok, sangat ramah. Lima dari lima orang yang kami tanya semuanya ramah.

Hero, ini masih menjadi tanda tanya bagi kami, yang mana si Hero, yang kami tahu adalah Ramayana. Atau jangan-jangan Hero itu bagian dari Ramayana, tapi kami cari tulisan Hero masih belum ketemu, akhirnya kami ambil kesimpulan, dulu Ramayana itu adalah Hero. Selesai sudah (kalau salah, kawan-kawan bisa kasi komen yak), yang jelas kami sudah berada di jalan yang benar karena tercium bau parfum yang wangiiiii sekali, sangat kontras dengan bau badan kami…hihi…^^. Di tengah jalan ada pesan singkat dari Kang Agung (sang penunjuk jalan kami) menanyakan tentang kondisi kami, kalau kami jawab lapar dibawain makanan gak ya kira-kira…? Hehe peace kang Agung, thanks atas keramahan kotanya. Berjalan kurang lebih 500m lebih dikit, kami tengok ke kanan dan melihat sesosok pagar bata berwarna merah seperti bangunan candi. Inilah dia si cantik Masjid Merah Panjunan.

Nama Panjunan terletak di kampung Panjunan, kampung pembuat Jun atau keramik porselen. Kampung ini didirikan oleh Pangeran Panjunan (salah satu murid Sunan Gunung Jati). Nama asli dari Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman, pemimpin kelompok pendatang Arab dari Baghdad. Sang Pangeran dan keluarga mencari nafkah dari membuat keramik porselen. Begitu juga anak keturunan mereka sampai sekarang tetap membuat keramik porselen, sehingga tempat itu kemudian diberi nama Panjunan, pembuat Jun.

Masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, didirikan oleh Pangeran Panjunan tahun 1453, lebih tua dari Masjid Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530) dan Masjid Sang Cipta Rasa (1489). Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok dan tak lazim sebagai bangunan masjid, batu bata sangat lumrah dipakai untuk membuat candi. Awalnya masjid ini bernama Al-Athyang yang artinya dikasihi, namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan, Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan Tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Selain faktor agama tersebut, arsitektur masjid ini dipengaruhi oleh gaya Jawa dan Cina.

Saat kami tiba di masjid ini bertepatan dengan waktu Sholat Ashar, sehingga akan sangat tampak aneh kalo tukang jepret kami jungkir balik nyari posisi foto yang pas, jadinya hasil jepretannya segitu-gitu aja (alasan, amatir bilang aja amatir, pake alasan segala…^^). Kami tidak jadi masuk ke dalam masjid mengingat ibadah sedang berlangsung, takut dikira maling sandal nanti kalau masuk sebentar trus keluar lagi…^^ akhirnya, kami Cuma mendapatkan bagian luarnya saja. Pengen nungguin sepi, tempat lain sudah menunggu kami. Akhirnya untuk sementara kami sudahilah perjalanan ini.

di posting dari http://anyerpanarukan.blogsport.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar